Transformasi HR Menjadi People and Culture, Apakah Perlu?

Menurut survey dari Sage Pada tahun 2019, 94% pemimpin HR mengatakan mereka memperkirakan akan melihat perubahan dari ‘HR’ menjadi ‘People’ dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Transformasi ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan karyawan, employee experience, dan peran strategis tim people and culture dalam perusahaan.
Pergeseran dari HR tradisional ke pendekatan people and culture dipicu oleh perubahan nilai kerja, tuntutan generasi baru, serta kebutuhan menciptakan lingkungan kerja yang lebih humanis, kolaboratif, dan berdampak jangka panjang.
Perbedaan Fungsi HR dan People and Culture

Meskipun fungsi Human Resources (HR) dan people and culture terlihat mirip, keduanya memiliki pendekatan dan filosofi yang berbeda.
HR konvensional lebih berfokus pada manajemen administratif, kepatuhan hukum, dan proses rekrutmen yang efisien. HR menjadi pusat regulasi dan kebijakan internal yang sering kali terpusat pada kontrol.
Sebaliknya, tim people and culture hadir dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan strategis. Mereka tidak hanya mengatur orang, tetapi juga membentuk pengalaman dan budaya kerja yang mendorong motivasi, inovasi, dan loyalitas.
Fokusnya bukan hanya pada “mengelola sumber daya manusia” tetapi pada bagaimana “membangun manusia dan budaya perusahaan” secara berkelanjutan.
Peran Tim People and Culture dalam Perusahaan
Transformasi HR menjadi people and culture menjadi simbol perubahan paradigma dan cara kerja. Tim ini memegang peranan penting dalam keberlangsungan dan kesuksesan perusahaan modern.
1. Menciptakan Budaya Kerja yang Sehat dan Inklusif
Salah satu tugas utama tim people and culture adalah membangun budaya kerja yang sehat, positif, dan inklusif. Mereka merancang nilai-nilai inti perusahaan dan memastikan nilai tersebut diinternalisasi oleh seluruh tim.
Aktivitas seperti employee recognition, kegiatan kolaboratif, hingga program diversity & inclusion menjadi fokus utama mereka.
2. Meningkatkan Employee Experience
Tim ini berperan untuk melihat karyawan sebagai talenta internal yang perlu diberikan pengalaman kerja terbaik. Mulai dari proses perekrutan, onboarding, pengembangan, hingga exit process. Semua dirancang agar karyawan merasa dihargai, nyaman, dan berdaya.
3. Mengelola Kesejahteraan Mental dan Emosional
Tidak hanya fisik, kesehatan mental kini menjadi perhatian serius. Tim ini mengembangkan kebijakan dan program yang mendukung kesejahteraan emosional, seperti akses ke psikolog, cuti mental health, dan kegiatan relaksasi. Ini sangat penting untuk mempertahankan produktivitas jangka panjang.
4. Menjadi Mitra Strategis Bisnis
Tidak lagi dipandang sebagai divisi pendukung, tim people and culture kini duduk sejajar dengan para pengambil keputusan. Mereka menyumbang insight strategis berdasarkan data karyawan, tren SDM, serta dampak budaya kerja terhadap kinerja perusahaan. Dengan demikian, mereka terlibat dalam perencanaan bisnis jangka panjang.
5. Mengelola Adaptasi terhadap Perubahan
Dunia kerja berubah cepat: dari model kerja hybrid, transformasi digital, hingga perubahan ekspektasi generasi milenial dan Gen Z. Tim ini bertugas menavigasi dan mengelola perubahan tersebut agar tidak berdampak negatif pada karyawan. Mereka merancang pelatihan, komunikasi, dan adaptasi sistem yang responsif terhadap perubahan.
Baca juga: Apa Itu Talent Attraction? Strategi Menarik Talenta Terbaik
Perusahaan yang Transformasi HR Menjadi People and Culture
Salah satu contoh dari transformasi HR menjadi people and culture adalah PT HM Sampoerna Tbk. Perusahaan ini telah melakukan pendekatan strategis untuk mengubah peran HR agar lebih relevan dengan tantangan zaman dan ekspektasi karyawan modern.
Transformasi HR di HM Sampoerna
HM Sampoerna mengubah unit Human Resources menjadi “People & Culture” sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih human-centric. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua proses pengelolaan karyawan dilakukan berdasarkan pendekatan budaya dan pemberdayaan.
Melalui transformasi ini, Sampoerna tidak hanya memfokuskan diri pada proses administratif, tetapi juga pada pembentukan nilai, pembelajaran berkelanjutan, serta program yang meningkatkan keterlibatan karyawan. Mereka juga mengimplementasikan sistem keterbukaan informasi, dialog terbuka antarlevel, dan pendekatan yang mendukung pengembangan karier karyawan.
Langkah ini tidak hanya berdampak pada kepuasan kerja internal, tetapi juga mendongkrak reputasi perusahaan sebagai employer of choice. Transformasi ini menunjukkan bahwa people and culture mampu menjawab kebutuhan bisnis sekaligus kebutuhan manusia di dalamnya.

