Karyawan Tidak Capai Target? Ini Langkah yang Bisa Dilakukan HR!

Setiap HR pasti pernah menghadapi situasi di mana karyawan tidak capai target kerja. Mungkin performa menurun, motivasi berkurang, atau beban kerja terasa tidak seimbang. Situasi seperti ini tidak hanya berdampak pada hasil individu, tetapi juga pada produktivitas tim dan pencapaian bisnis secara keseluruhan.
Namun, hal ini bukan berarti kegagalan. Sebaliknya, ini bisa menjadi momen penting bagi HR untuk melakukan evaluasi, mendengarkan, dan memperbaiki sistem kerja agar performa tim kembali optimal. Karena pada dasarnya, kinerja yang menurun bukan hanya berakar dari masalah individu, tapi hasil dari sistem yang perlu disesuaikan.
Analisis Akar Masalah Secara Objektif
Langkah pertama yang perlu dilakukan HR ketika karyawan tidak capai target adalah melakukan analisis terhadap penyebabnya. Apakah karena kurangnya sumber daya, target yang tidak realistis, atau masalah komunikasi antara atasan dan bawahan?
Pendekatan berbasis data menjadi penting di tahap ini. HR dapat meninjau riwayat performa, jam kerja, dan beban tugas karyawan melalui sistem digital. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak didasarkan pada asumsi, tapi pada fakta.
Selain itu, jangan lupakan sisi manusiawi. Diskusi personal dengan karyawan bisa membantu HR memahami kendala yang mungkin tidak terlihat di angka, seperti stres kerja, kurangnya dukungan tim, atau kebingungan dalam prioritas tugas.
Evaluasi Ulang Target dan Proses Penetapannya
Sering kali, penyebab karyawan tidak capai target bukan karena malas atau tidak kompeten, melainkan karena target yang ditetapkan tidak sesuai dengan kapasitas dan kondisi. HR bersama manajer perlu meninjau kembali apakah target yang diberikan benar-benar realistis.
Gunakan pendekatan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) untuk memastikan setiap target dapat dicapai dengan jelas dan terukur. Pastikan juga karyawan memahami indikator keberhasilan mereka sejak awal.
Di sisi lain, penting juga untuk meninjau ulang proses kerja yang mendukung pencapaian target. Apakah sistem yang digunakan sudah efisien? Apakah ada hambatan administratif yang menghambat produktivitas?
Dengan mengevaluasi dua sisi ini, manusia dan sistem, HR dapat menemukan titik optimal antara ekspektasi dan kemampuan tim.
3. Lakukan Coaching dan Pendampingan Secara Konsisten
Karyawan yang tidak mencapai target bukan berarti tidak memiliki potensi. Mungkin mereka hanya membutuhkan arahan dan bimbingan yang lebih personal. Di sinilah peran HR dan manajer menjadi sangat penting.
Coaching bukan sekadar memberikan perintah, melainkan proses dialog dua arah. HR dapat membantu karyawan mengenali hambatan mereka, mengembangkan strategi kerja baru, dan memperbaiki manajemen waktu. Dengan pendekatan coaching yang baik, HR bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus meningkatkan motivasi kerja.
Gunakan sesi one-on-one secara rutin untuk memberikan feedback konstruktif. Hindari menyalahkan, fokuslah pada solusi. Pendampingan yang berkelanjutan akan membuat karyawan merasa didukung dan termotivasi untuk memperbaiki kinerjanya.
Gunakan Data dan untuk Evaluasi Kinerja yang Adil
Di era digital, HR tidak lagi harus bergantung pada penilaian subjektif. Dengan HRIS seperti KelolaHR, penilaian performa dapat dilakukan secara lebih transparan dan berbasis data.
Ketika karyawan tidak capai target, data menjadi alat penting untuk melihat pola kerja dan performa secara menyeluruh. Apakah penurunan ini terjadi di satu individu, satu tim, atau seluruh departemen? Apakah karyawan memiliki umpan balik yang cukup dari atasan?
Sistem evaluasi digital memungkinkan HR melihat performa dalam dimensi yang lebih luas, termasuk aspek kolaborasi, inisiatif, dan kontribusi antar tim. Dengan pendekatan ini, HR bisa memberikan penilaian yang lebih adil dan berfokus pada pengembangan, bukan hanya hukuman.
Bangun Budaya Feedback dan Penilaian yang Konstruktif
Salah satu langkah paling efektif untuk mencegah penurunan performa adalah menciptakan budaya kerja yang terbuka terhadap feedback. HR dapat memfasilitasi komunikasi dua arah di mana karyawan merasa aman untuk menyampaikan kendala tanpa takut disalahkan.
Gunakan penilaian 360 derajat untuk memperkuat proses ini. Dengan metode ini, karyawan mendapatkan evaluasi dari berbagai perspektif seperti atasan, rekan kerja, dan bawahan. Hasilnya, HR memperoleh gambaran menyeluruh tentang performa dan potensi individu.
Selain memperbaiki kinerja, budaya feedback juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap pekerjaan. Karyawan yang merasa didengar dan dihargai akan lebih termotivasi untuk memperbaiki performa dan mencapai target yang ditetapkan.
Baca juga : Gak Cuma Efisien, Ini 5 Manfaat Absensi Online Untuk Perusahaan
Optimalkan Evaluasi Kinerja Karyawan dengan KelolaHR
Menangani kasus karyawan tidak capai target memerlukan sistem yang terstruktur, transparan, dan mudah digunakan. KelolaHR hadir sebagai solusi lengkap bagi tim HR untuk melakukan penilaian kinerja yang objektif dan berkelanjutan.
Dengan fitur Penilaian 360, HR dapat melakukan evaluasi karyawan dari berbagai sudut pandang, atasan, rekan, dan bawahan, secara otomatis dalam satu dashboard terintegrasi. Proses ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga memberikan hasil penilaian yang lebih akurat dan menyeluruh. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut!



